Pages

Tuesday, July 2, 2013

Muhammad Al Fatih 1453

Konstantinopel adalah kota yang dijanjikan bagi kaum Muslim seperti telah diberitakan Rasulullah SAW beberapa abad sebelumnya. Menaklukkan Konstantinopel adalah kerinduan kaum Muslim yang untuk memperolehnya dibutuhkan lebih dari delapan abad. Membutuhkan usaha yang luar biasa mengingat Konstantinopel adalah kota imperium terbesar di zamannya dengan pertahanan luar biasa kokoh. Gabungan keyakinan utuh seorang Muslim, kebulatan tekad, usaha keras tak kenal menyerah, strategi perang jitu dan kesabaran lah yang menjadikan seorang Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkannya. 29 Mei 1453.
Membaca buku setebal 318 halaman ini tak ubahnya seperti membaca sebuah novel yang menawan bahkan saya nyaris tak ingat bahwa sebenarnya saya sedang membaca buku shiroh. Gaya bahasa runut, mengalir serta penggambaran latar tempat dan waktu yang kuat sepanjang tujuh belas bab membuat pembaca seperti hanyut dalam setiap kisah yang diceritakan, mengikuti kejadian demi kejadian tanpa merasa bosan. Banyaknya ilustrasi yang ada pada buku bersampul kuning ini dan merujuk pada referensi yang sedemikian banyak seperti disebutkan dalam Daftar Pustaka menjadikan buku ini begitu kaya. Begitu indah.
Sejarah pasti akan berulang. Belajarlah dari sejarah. Belajarlah dari kegigihan kaum Muslim menaklukkan Konstantinopel setelah berjuang beberapa abad, belajarlah dari keberanian kaum Muslim yang tak takut mati demi membela kehormatan agama, belajarlah dari kesalehan dan strategi Muhammad Al Fatih menempa dirinya sekian lama, belajarlah dari kearifannya sebagai seorang pemimpin bagi semua kaum, belajarlah sebagai seorang Muslim yang sepenuhnya berserah dan tunduk kepada-Nya dan apapun yang Dia tentukan.
Felix Siauw, seorang mualaf, meracik kata demi kata dengan piawai. Pemilihan kata yang digunakan tak sekadar enak untuk dibaca tetapi lebih dari itu, kata-kata yang digunakannya menyebarkan semangat (ghirah) keislaman yang tinggi. Bacalah dan rasakanlah kekuatan kata demi kata.
Buku ini ditutup dengan epilog yang amat indah (bagian yang paling saya suka dari buku ini), paragraf pertama epilog,
“Ketika ada yang bertanya kepada saya, sikap mental apakah yang paling menonjol pada seorang Mehmed Al-Fatih, saya segera menjawab “see beyond the eye can see”, Melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata. Lebih jauh lagi, bahkan saya katakan ini adalah sikap mental yang terkait dengan inti ajaran Islam, aqidah Islam. Sebagian besar perkara keimanan di dalam Islam tidak dapat dilihat oleh mata dalam meyakininya menuntut seseorang untuk bisa melihat lebih dari mata. Eksistensi Allah, Malaikat, Hari Kiamat, Surga dan Neraka dan perkara-perkara lain yang tak kasat mata,(halaman 290).
Berikut kata bijak lainnya dalam buku ini:
  1. Ada cara yang menyenangkan untuk mengubah kepribadian Anda menjadi selevel para ksatria Islam yang terpisah zaman dan waktu, bacalah sejarah (hal. X)
  2. Bukanlah suatu perubahan yg mudah dari pejuang gurun pasir ke pejuang laut,hanya ksatria berkeyakinan langit yg bisa (hal. 17)
  3. Kita tidak memerangi musuh karena jumlahnya, kekuatannya dan banyaknya pasukan. Kita tidak memerangi mereka kecuali karena agama ini yang mana Allah memuliakan kita dengannya (Abdullah bin Rawahah, hal. 103)
  4. Sejarah mencatat bahwa daerah yang dibebaskan kaum Muslim akan menjadi lebih sejahtera daripada sebelumnya, sebagai bukti ketinggian Islam dan sebagai argument tak terbantahkan bahwa Islam bukan menjajah dan mengeksploitasi, melainkan membebaskan dan membawa ummatnya menuju kemuliaan hidup (hal. 104)
  5. Pasukan yang terbaik tidak hanya tersusun dari potensi individu yang baik, tetapi juga karena keteraturan dan ketakwaan kepada Allah swt, Dzat pemberi kemenangan (hal. 105)
  6. Bahwasanya seorang hamba itu sekadar merancang sedangkan yang menentukan adalah Allah dan ketentuan semuanya ada di tangan Allah (hal. 173)
  7. “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang pernah dilakukan oleh Alexander The Great” (hal. 182)
  8. Jika kita tidak mengalahkan mereka dengan ketaatan kita, mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka (hal. 229)
  9. Bila saja dia (Muhammad Al Fatih) hidup 20 tahun lebih panjang, tentunya tidak ada lagi Eropa dengan Kristennya (hal. 273)
  10. Para ahli di masa kini berpendapat bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan antara anakanak yang membaca biografi tokoh-tokoh hebat dengan anak-anak yang tidak membacanya pada pembentukan mental dan prestasi yang dicapainya (hal. 283)
  11. Seandainya seluruh dunia berkata bahwa Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan, selama Muhammad saw berkata “bisa” maka bagi Mehmed II itu sudah cukup (hal. 292)
  12. Whatever it takes for the sake of Allah, dia melakukan apapun yang harus dilakukan demi Allah (hal. 311)
  13. “Nak atau tak nak? Kalau Nak; 1000 Daye, Kalau Tak Nak; 1000 Daleh!” (hal. 312)

No comments:

Post a Comment